Artikel

Perdebatan: Sebuah Kemunduran atau Langkah Perbaikan?

By Fanny Widiyanti, S.Psi – Consultant at Magnet Solusi Integra

Anda tentu tidak asing dengan nama Steve Jobs, pendiri salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia yaitu Apple. Jika Anda mencari informasi mengenai Steve Jobs lebih lanjut di dunia maya, Anda akan menemukan begitu banyak pemikirannya yang menjadi kontroversi seperti ketika Apple memutuskan akan memproduksi ponsel. Mungkin Anda akan berpikir bahwa perusahaan teknologi berskala dunia seperti Apple hanya akan mempekerjakan orang-orang terbaik dari jurusan komputer, sistem informasi dan sejenisnya. Yang mengejutkan, pemikiran tersebut langsung terbantahkan oleh salah satu prinsip Steve Jobs yang beranggapan bahwa inovasi terbaik adalah penggabungan antara teknologi dan seni. Steve Jobs ingin menjual produk yang tidak hanya canggih, namun juga mampu “mengunci” hati penggunanya sehingga mereka tidak ingin beralih ke produk lain. Untuk mencapai tujuan tersebut, Steve Jobs merekrut orang dari berbagai latar belakang disiplin ilmu seperti Antropologi, Sejarah, Seni, bahkan Sastra. Orang-orang inilah yang kemudian memberikan “jiwa” pada produk keluaran Apple, suatu hal yang tidak mungkin mampu dilakukan oleh orang yang berasal dari bidang komputer maupun engineering. Anda tentu dapat membayangkan bagaimana kericuhan dan dinamika yang terjadi dalam tim besutan Steve Jobs tersebut karena setiap anggota tim berasal dari latar belakang dan disiplin ilmu yang berbeda bahkan bertentangan. Perdebatan menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindarkan, namun berhasil membawa mereka pada satu titik di mana Apple menjadi perusahaan teknologi raksasa yang tidak terkalahkan.

Dalam dunia kerja Anda tentu tidak asing dengan berbagai perdebatan yang seringkali muncul khususnya ketika rapat. Perdebatan atau beradu argumen ini seringkali menjadi penyebab kecenderungan karyawan merasa enggan menghadiri rapat dan menyampaikan pendapatnya secara terbuka. Beradu argumen dapat menjadi hal yang sangat baik – bahkan mungkin menjadi kunci kesuksesan – jika dilakukan dengan cara yang sehat. Riset membuktikan bahwa keragaman kognitif membuat sebuah kelompok menjadi lebih cerdas. Dua kepala akan lebih baik dari satu kepala, dan banyak kepala bahkan lebih baik, khususnya ketika setiap orang mau membagi pengalaman dan opininya. Masing-masing anggota kelompok tentu memiliki pengalaman dan pemikiran yang berbeda, yang seharusnya dimanfaatkan menjadi alat penunjang pencapaian target kelompok.

Studi juga menunjukkan bahwa sebagian besar merger dan akuisisi yang dilakukan oleh perusahaan bukan gagal akibat konflik. Kegagalan justru disebabkan oleh “organizational silence” yang berakar dari ketakutan akan konflik. Perbedaan pola pikir dan ketidaksetujuan memang menimbulkan rasa tidak nyaman. Namun hal itu jika disikapi dengan baik justru akan mengarahkan tim pada kemajuan, inovasi, dan menghasilkan solusi dibandingkan konsensus dan pembicaraan yang terlihat menyenangkan dimana orang menahan apa yang mereka pikirkan.

Debat seringkali membuat kita terjebak pada keinginan untuk “menang” dalam arti kita ingin terlihat lebih baik dari lawan bicara. Sayangnya hal tersebut cenderung mengarahkan kita untuk mengabaikan logika dan bukti yang bertentangan dengan kepercayaan kita, sehingga kita bertengkar tanpa menghasilkan progres.

Kita dapat mengubah dinamika tersebut dengan melatih orang untuk mengadopsi perilaku yang tepat yaitu:

  1. Ingat bahwa kita semua berada dalam satu tim! Pada dasarnya seluruh perdebatan terbagi menjadi 3 kategori berdasarkan tujuannya yaitu: mempersuasi orang lain bahwa Anda benar, agar terlihat lebih baik dari lawan bicara, serta untuk mencari solusi yang lebih baik bersama-sama. Jenis perdebatan yang ketiga inilah yang dapat membantu kita mendapatkan manfaat paling besar dari keragaman kognitif dalam kelompok. Untuk mengarahkan orang pada tujuan itu, awali diskusi dengan tujuan bersama dan penekanan bahwa setiap orang berada dalam kelompok yang sama. Bayangkan jika orang yang bekerja dalam tim Steve Jobs sibuk berdebat bahwa Sastra lebih baik daripada komputer, maka saat ini Anda pasti tidak akan menemukan lagi produk Apple  di pasaran
  2. Setiap orang adalah partisipan yang setara. Tidak peduli siapa yang lebih senior atau memiliki kedekatan tertentu dengan pemimpin. Tidak ada hierarki atau perhatian spesial yang diberikan kepada sudut pandang seseorang dibanding yang lain. Tidak ada “pemenang”. Tim dapat dikatakan menang apabila muncul progres
  3. Pertahankan fakta, logika dan topik pembahasan. Salah satu elemen krusial yang paling sulit dari perdebatan yang produktif adalah menjaga pembahasan pada track. Argumen cenderung menjadi tidak berkualitas ketika seseorang merasa bahwa ide maupun identitasnya akan diserang
  4. Jangan membawa debat ke ranah pribadi. Emosi dan ego akan mulai memainkan peran yang lebih besar, sehingga setiap orang menjadi cenderung kurang menghargai sudut pandang orang lain yang secara signifikan mengurangi potensi adanya inovasi dan pemecahan masalah. Ajarkan kepada anggota tim bahwa kita pun perlu menghargai orang lain dan mengubah pemikiran berdasarkan sudut pandang orang lain serta fakta yang ada. Hal ini yang secara psikologis disebut intellectual humility
  5. Miliki rasa keingintahuan. Jangan langsung meremehkan ide yang disampaikan oleh orang lain, bahkan mengatakan bahwa ide tersebut konyol. Sebuah ide yang buruk pun dapat berguna untuk membantu kita menemukan ide yang lebih baik. Pastikan setiap anggota kelompok mengemukakan pendapatnya di forum/rapat, bukan bergunjing di luar forum yang tidak akan menghasilkan apa-apa

Perdebatan bukanlah sebuah momok yang harus dihindari. Perdebatan justru merupakan bagian dari dinamika yang akan menentukan kemajuan kelompok. Jika seluruh anggota merasa berada dalam “kapal” yang sama dan belajar menghargai satu sama lain, maka perdebatan justru menjadi jalan pembuka inovasi dan memahami karakter serta pemikiran setiap individu.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *